Budaya kerja menjadi unsur mendasar dalam pelaksanaan tugas organisasi pemerintah.Budaya kerja mempengaruhi cara aparatur berperilaku, bertindak, serta menetapkan keputusan.Organisasi pemerintah dituntut memiliki kemampuan beradaptasi terhadap dinamika lingkungan strategis. Kondisi tersebut menuntut adanya nilai bersama yang berfungsi sebagai pedoman sikap dan perilaku ASN.Pemerintah Indonesia menetapkan nilai dasar ASN BerAKHLAK sebagai landasan budaya kerja nasional.
Nilai ASN BerAKHLAK meliputi Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menyatukan sistem kerja dalam birokrasi pemerintahan. Budaya kerja BerAKHLAK diarahkan untuk membentuk ASN yang profesional serta berintegritas tinggi. Implementasi budaya kerja BerAKHLAK perlu dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Organisasi pemerintah memiliki peran penting dalam menumbuhkan dan menguatkan budaya kerja tersebut. Nilai berorientasi pelayanan menegaskan pentingnya kepuasan masyarakat sebagai tujuan utama. ASN dituntut untuk memberikan layanan yang cepat, tepat sasaran, dan bermutu. Pelayanan publik menjadi representasi utama citra organisasi pemerintah. Sikap melayani harus tertanam sebagai kebiasaan di seluruh unit kerja. Kualitas pelayanan yang baik akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Akuntabilitas merupakan nilai krusial dalam pengelolaan organisasi pemerintahan. Setiap ASN wajib mempertanggungjawabkan seluruh tindakan dan keputusan yang diambil. Akuntabilitas mendorong terwujudnya transparansi serta sistem pengawasan yang efektif. Organisasi yang menerapkan akuntabilitas mampu mengurangi potensi penyimpangan.
Nilai akuntabel memperkuat prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Kompetensi menjadi prasyarat utama dalam menghadapi tantangan birokrasi masa kini. ASN dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilannya. Organisasi pemerintah perlu memfasilitasi program pengembangan kompetensi pegawai.Pembelajaran yang berkelanjutan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja individu maupun organisasi. ASN yang memiliki kompetensi tinggi mampu bekerja secara optimal dan efisien. Nilai harmonis mencerminkan terciptanya hubungan kerja yang saling menghormati.Lingkungan kerja yang harmonis berdampak positif terhadap produktivitas.Keberagaman latar belakang ASN seharusnya menjadi potensi kekuatan organisasi.Sikap saling menghargai memperkuat rasa kebersamaan di internal organisasi.Organisasi yang harmonis mendorong terbangunnya kolaborasi yang konstruktif.Loyalitas dalam budaya kerja BerAKHLAK diartikan sebagai kesetiaan kepada negara dan pemerintahan yang sah. ASN harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Loyalitas juga tercermin melalui kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Sikap loyal berkontribusi pada terciptanya stabilitas organisasi. Organisasi pemerintah membutuhkan ASN yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Nilai adaptif menjadi faktor penentu keberhasilan organisasi di tengah perubahan yang cepat. ASN dituntut mampu menyesuaikan diri dengan kebijakan dan tuntutan baru. Perkembangan teknologi digital menuntut seluruh pegawai bersikap adaptif. Organisasi yang adaptif memiliki kemampuan untuk bertahan dan berkembang. Budaya adaptif mendorong lahirnya inovasi dalam pelayanan publik. Nilai kolaboratif menekankan pentingnya kerja sama lintas unit dan lintas instansi. Permasalahan publik umumnya bersifat kompleks dan melibatkan berbagai sektor. Kolaborasi yang efektif mempercepat pencapaian tujuan organisasi. ASN perlu menghindari sikap ego sektoral dalam pelaksanaan tugas. Kerja sama yang solid meningkatkan efektivitas kebijakan publik. Implementasi budaya kerja BerAKHLAK memerlukan dukungan dan komitmen pimpinan. Pimpinan berperan sebagai teladan dalam menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Keteladanan pimpinan mempercepat perubahan perilaku organisasi. Konsistensi pimpinan mampu menumbuhkan kepercayaan pegawai. Budaya kerja tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan pimpinan. Penilaian kinerja seharusnya mencerminkan perilaku sesuai nilai BerAKHLAK. Penerapan reward dan punishment mendukung konsistensi budaya kerja. Organisasi perlu menciptakan iklim kerja yang selaras dengan nilai BerAKHLAK. Sistem kerja harus dirancang sejalan dengan nilai yang ditetapkan. Regulasi internal perlu disesuaikan untuk mendukung budaya kerja baru. Budaya kerja tidak sekadar menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Perubahan budaya memerlukan proses, waktu, dan kesabaran.
Sistem digital memudahkan kolaborasi antar unit kerja. Teknologi juga mempercepat proses pelayanan publik. Pemanfaatan teknologi harus dibarengi dengan peningkatan kompetensi ASN. Budaya kerja BerAKHLAK memberikan kontribusi nyata terhadap reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi menuntut perubahan pola pikir serta budaya kerja aparatur. Nilai BerAKHLAK menjadi instrumen strategis dalam proses reformasi tersebut. Organisasi dengan budaya kerja yang kuat lebih mudah melakukan transformasi. Implementasi nilai membutuhkan komitmen seluruh unsur organisasi. Pimpinan memegang peranan kunci dalam keberhasilan penerapan nilai. Budaya kerja harus terintegrasi dalam sistem kerja organisasi. Evaluasi yang berkelanjutan memastikan konsistensi implementasi. Tantangan perlu dihadapi melalui pendekatan kolaboratif. Budaya kerja yang kuat mendukung keberhasilan reformasi birokrasi. ASN BerAKHLAK membentuk organisasi yang profesional dan berorientasi pelayanan. Dengan penerapan budaya kerja ASN BerAKHLAK, organisasi pemerintah mampu menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas dan berkelanjutan.
Oleh :
Ade Setiadi, ST, M.Si
Widyaiswara Ahli Madya Kab.Tasikmalaya